Internet Of Things di Dunia Pertanian

    

Internet Of Things

     Saya masih ingat betul jaman saya masih kecil. Sekitar tahun 1993. Internet merupakan suatu istilah baru. Apa itu yang namanya internet bahkan saya ngga tau. Melihat perkembangan jaman yang begitu pesat, hanya dalam beberapa tahun. Internet kini sudah menjadi bagian dari hidup kita. Semua gadget dan perangkat digital terhubung dengan internet.

     Bicara soal Internet, sekarang ini topik yang lagi hangat-hangatnya diperbincangkan di dunia katanya nih ya sekarang ini (2015) adalah eranya Internet of Things.

     Apa sih itu Internet of Things….? Internet adalah interconnection-networking, jadi suatu jaringan yang saling terhubung secara massal secara luas. Things adalah benda. Jadi sebenarnya Internet of Things adalah benda yang bisa terhubung secara massal lewat jaringan yang luas.

     Mari kita menghayal sedikit. Coba kalian bayangkan jika seluruh benda di dunia ini bisa berkomunikasi secara real time dengan kita. Di belahan waktu yang berbeda pada saat itu juga. Ya seluruh benda. Ngayal banget kelihatannya.. Tapi itu mungkin lho.. Gimana caranya..? Ya kita pasang mereka sensor satu per satu yang terhubung dengan prosessor sebagai otak utamanya dan terkoneksi dengan internet. Gila emang kelihatannya… Tapi ini prediksi yang akan terjadi di beberapa tahun mendatang. Sensor pintar dipasang di semua benda. Dan mereka akan bisa berkomunikasi satu sama lain melalui internet setiap hari.

     Coba bayangkan kalau informasi dari semua benda, semuanya terhimpun jadi satu basis kumpulan data yang mereka akan memberi kontribusi kepada kita berupa info. Berupa panduan dan aksi. Dunia akan menjadi lebih smart dan berkembang. Mereka tau apa yang kita butuhkan sehari-hari. Karena kesemua sensor tadi tersambung satu sama lain.

     Pengen menghayal lagi tentang gambaran pertanian yang bisa di wujudkan di masa yang akan datang. Tentang bagaimana kita menghidupkan sektor pertanian ini. Jika penggunaan energi dan air distribusinya mulai dibatasi. Memang masi belum terjadi, tapi ada kemungkinan ini terjadi lho…

     Nanti ketika itu semua terjadi yang kita fikirkan akhirnya adalah soal manajemen energi dan air. Cara paling efektif adalah dengan menggunakan sensor. Misalnya kita bakal repot di awal nancepin satu persatu tanaman yang kita akan tanam dengan sensor soil moisture untuk mengetahui kelembaban tanah.

Soil Moisture Sensor

     Gimana cara sensor ini bekerja.. Tanah yang cukup mengandung air akan menghantarkan daya listrik lebih besar. Karena air merupakan konduktor listrik yang baik. Sehingga sensor membaca tegangan yang diterima tinggi. Tegangan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi data berupa angka. Yang dapat kita perhitungkan dan kita setting. Dimana angka tinggi rendahnya merupakan acuan dan sinyal untuk otak mesin air kita.

Water is a good conductor

     Selanjutnya otak mesin air kita akan memberikan perintah kepada pompa untuk mengalirkan air melalui keran keran solenoid yang hanya diinput oleh 2 perintah. Jika angka pada sensor kelembaban tanah rendah maka keran solenoid memberikan perintah On sehingga kenob aliran air dibuka dan jika angka pada sensor kelembaban tanah tinggi maka keran solenoid membaca Off sehingga aliran air diputus.

Solenoid Water Kenob

     Sensor sensor ini akan bekerja otomatis dan memberikan info ke kita lewat media sosial. Keren tentunya jika pompa airmu bisa ngetweet atau bisa update status facebook sehingga kita tau apa yang sedang mereka kerjakan pada saat kita ngga disitu… Itu juga mungkin dilakukan lho lewat alat yang dikontrol mikro prosessor / mikro controller yang dihubungkan ke internet.

Tweet dari sensor ke Pengguna

     Soal air selesai, soal energi buat fotosintesis. Tanaman membaca gelombang cahaya tertentu untuk memulai proses fotosintesis. Dan intensitas cahaya yang diterima juga sangat menentukan. Kalau cahaya tersedia sepanjang hari sih ngga masalah. Tapi ada kalanya kita butuh cahaya, saat mendung misalnya atau saat cuaca buruk. Atau kita butuh mengurangi paparan cahaya matahari pada saat tertentu. Semua bisa dilakukan dengan lagi lagi dengan yang namanya sensor.

Light Dependent Resistor

     Ketika kita mulai stress nyari-nyari sensor cahaya yang harganya mahal mahal itu, ternyata ada alat yang bisa ditemui di toko elektronik harganya murah meriah, namanya photoresistor atau light-dependent resistor (LDR) atau photocell. Sebenarnya cara kerja alat ini mengontrol variabel tegangan lewat cahaya yang diterima. Sama kaya potensiometer sih tapi yang ngontrol besar kecilnya itu cahaya yang terdeteksi. Alat ini multifungsi, selain bisa digunakan sebagai light meter dadakan yang bisa ngeluarin output angka … lux yang terbaca. Bisa juga kita pakai sebagai sensor picu on off tirai yang digerakkan oleh motor listrik menggulung dan membuka. Atau lampu yang terhubung dengan relay channel yang bisa diperintah lewat alat yang namanya mikro controller untuk nyala dan mati. Keren kan… Bangettt…

     Nah ada lagi masalah kalau tanemannya banyak, atau tempat budidayanya ada banyak juga plottingannya tapi masih di satu lahan. Apa kita harus masang sensor itu satu-satu… Nah disinilah peran Internet of Things bekerja. Gimana caranya makhluk bernama Internet of Things itu mengambil alih pekerjaan….?

     Kita cukup pasang satu sensor di satu lokasi. Data sensor tersebut kemudian kita upload ke internet dengan bantuan perangkat yang bisa ngirim data ke internet. Dua keuntungan yang kita dapatkan adalah yang pertama kita dapat memantau angka yang terbaca, bisa buat penelitian dan menentukan langkah selanjutnya. Semakin banyak kita punya data maka akan semakin banyak gambaran yang bisa kita lakukan dengan data tersebut. Keuntungan kedua adalah let them work. Berikan coding yang pas kepada mikro controller untuk memberikan perintah berdasarkan data yang kita himpun. Jadi kita hanya perlu berpusing-pusingria di awal menentukan coding.

World and IOT

     Coding yang kita berikan adalah coding untuk mesin agar dapat upload data di internet dan membacanya kembali untuk menentukan apa langkah tepat yang harus mereka lakukan. Sehingga hanya dengan satu buah sensor yang bermacam-macam di satu lokasi, kita dapat menentukan apa yang harus kita perbuat untuk ribuan tanaman yang kita tanam baik itu di lokasi yang sama atau di lokasi yang berbeda jarak tapi masih dalam satu cangkupan iklim secara makro. Keren khan…

     Sebenarnya masih banyak hal – hal lain yang bisa kita lakukan dengan Internet of Things di dunia pertanian tergantung bagaimana cara kita berkreasi. Jadi lets reach your dream and make it become your reality..🙂

One thought on “Internet Of Things di Dunia Pertanian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s